Koeswanto, Penemu Kacang Varietas Baru ’Brawijaya Ungu’

http://radarmalang.co.id/koeswanto-penemu-kacang-varietas-baru-brawijaya-ungu-11290.htm

RADAR MALANG JAWA POS, 5 PEBRUARI 2015

Kacang panjang berwarna hijau mungkin terlalu biasa. Namun, kacang panjang dengan warna ungu di Indonesia baru saja ada. Penemunya adalah Prof Dr Ir Koeswanto MS. Temuan ini sudah mendapat pengakuan berupa sertifikat dari Kementerian Pertanian RI pada Desember 2014 lalu.

boks Koeswanto

Pandangan matanya tak lepas dari layar laptop yang terpampang di depannya. Tangannya juga terampil memainkan keyboard di papan laptop. Bahkan karena keasyikannya, Prof Dr Ir Koeswanto MS tidak menyadari kehadiran wartawan Jawa Pos Radar Malang. ”Wah, maaf asyik melihat perkembangan kacang panjang saya,” terang Koeswanto setelah menyadari kehadiran wartawan koran ini, Selasa (3/2).

Koeswanto begitu bangga memamerkan hasil temuan terbarunya berupa varietas kacang panjang berwarna ungu. Varietas itu dia namakan Brawijaya Ungu (BU) 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Khusus untuk enam varietas terbarunya ini, guru besar budidaya pertanian ini sudah mendapatkan sertifikat Tanda  Daftar Varietas Tanaman dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI). Sertifikat ini dikeluarkan pada tanggal 1 Desember 2014 yang lalu. Pemberian sertifikat didasarkan pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman; Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2004 tentang Penanaman, Pendaftaran dan Penggunaan Varietas Asal Untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial; Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01 Tahun 2006 tentang Syarat Penamaan dan Tata Cara Pendaftaran Varietas Tanaman.

Total ada enam varietas yang sudah mendapatkan sertifikat PPVTPP resmi dari Kementan RI. Selain itu, juga ada 12 varietas yang telah didaftarkan di Kementan dan dia juga sudah mengantongi 5 hak untuk perlindungan varietas tanaman (hak PVT). Yakni varietas Brawijaya 1, 3, 4, serta Bagong 2 dan 3. Kelima varietas yang mendapatkan hak PVT ini merupakan kacang panjang dengan polong hijau. Perlindungan varietas tanaman ini merupakan hak paten bagi penghasil varietas. Tidak hanya itu, laki-laki yang mendapatkan gelar profesornya pada usia 45 tahun ini juga sudah merilis sekitar 23 varietas pada tahun 2011 lalu.  ”Untuk varietas kacang panjang berpolong hijau sudah dikembangkan bibitnya oleh salah satu perusahaan dari Bululawang,” terangnya.

Kacang panjang dengan varietas BU 1 hingga 6 ini memang menjadi temuan terbaru dari dosen yang juga menjadi pemenang dalam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2012 kategori varietas tanaman ini. Namun, untuk penelitiannya, sudah dilakukan sejak tahun 2011 lalu. Selama tiga tahun, bapak dua anak ini terus melakukan penelitian untuk mendapatkan varietas terapik kategori kacang panjang. Untuk mendapatkan kacang panjang warna ungu yang masih belum dilepas di pasaran ini, suami dari Binti Saptorini ini harus bolak-balik dari Kota Malang ke Jatikerto, Kromengan, Kabupaten Malang. Sebab,  untuk laboratorium Pertanian UB terletak di kawasan ini. Luas tanah yang digunakan untuk lab tanaman ini juga tidak begitu luas. Yakni sekitar 6 m x 10 m saja.

Metode yang digunakan untuk menemukan kacang panjang berwarna ungu yang digadang-gadang memiliki zat antosianin (antioksidan dalam jumlah tinggi) melebihi ubi ungu dan buah bit (sejenis umbi-umbian) ini adalah hukum kawin silang mendel. Sehingga, Koeswanto bereksperimen dengan mengawinkan berbagai macam jenis kacang tanah yang sudah mulai dia ciptakan sejak tahun 1990-an itu. Terhitung, ada ribuan jenis kacang panjang yang sudah dia temukan. Dari ribuan jenis kacang panjang yang ditemukan oleh editor in chief Agrivita ini, dipilih ratusan yang menjadi karya terbaik. ”Dari ratusan itu saya mencoba untuk kembali mengawinsilangkan dan akhirnya saya temukan enam yang terbaik ini,” katanya sembari menunjukkan bibit unggul dari varietas terbaru yang dia temukan.

Ahli pemuliaan tanaman khususnya kacang panjang ini mengaku, kacang panjang warna ungunya yang diberi nama varietas BU 1 hingga 6 ini memiliki keunggulan dari segi kandungan antosianin yang tinggi. Untuk kandungan serat, mineral, dan aneka vitamin lainnya, menurut Koeswanto, relatif sama dengan kacang panjang hijau pada umumnya. Ayah dari Siwi Peni dan Gilang Masterizqi ini mengungkapkan, dia memang terdorong untuk menciptakan satu varietas yang dipercaya mampu dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Apalagi di zaman sekarang, mobilitas masyarakat yang tinggi, tidak diimbangi dengan kepedulian terhadap kesehatan. Tingginya tingkat radiasi maupun polusi mengakibatkan masyarakat dengan mudahnya mengidap penyakit kanker.

Faktor kesehatan yang menjadi perhatian utamanya ini membuat dia menciptakan tanaman baru yang memiliki antioksidan yang tinggi. Sehingga diharapkan mampu menangkal radikal bebas dan meningkatkan taraf hidup kesehatan masyarakat. Sebab, tekadnya adalah membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dari nutrisi yang dihasilkan melalui penemuan-penemuannya itu.  Koeswanto mengungkapkan, dia memilih konsentrasi kacang panjang karena disukai banyak orang. Mulai dari orang tua hingga muda tidak ada pantangan untuk memakannya. Artinya, aman dikonsumsi oleh semua orang. Tidak seperti telo ungu yang tidak disarankan konsumsinya bagi orang yang memiliki masalah pada pencernaan. ”Karena pertimbangannya, banyak orang yang suka dengan kacang panjang, maka konsentrasi pemuliaan tanaman ini saya lakukan pada kacang panjang. Harapannya, agar gizi masyarakat semakin terjamin,” urai dia.

Koeswanto merinci, untuk keenam varietas teranyarnya ini memang memiliki kandungan antosianin yang sangat tinggi. Namun, ada juga yang kandungan antosininnya tidak begitu tinggi. Dia merinci varietas yang dihasilkan mulai dari yang memiliki antosianin tertinggi hingga terendah. Yakni BU 4 yang memiliki antosianin dengan kadar 26,94 ppm (part per million); BU 1 dengan kandungan 35,7 ppm; BU 5 dengan kandungan 39,44 ppm; BU 2 dengan kandungan 105,2 ppm; dan BU 6 dengan kandungan 119,2 ppm; serta BU 3 yang memiliki antosianin paling tinggi yakni 189,54 ppm. Kandungan yang berbeda ini karena tingkat keunguannya juga berbeda. Untuk dua varietas dengan kandungan antosianin yang rendah, karena BU 4 memiliki warna ungu kemerahan serta BU 1 yang memiliki warna ungu dengan garis memanjang warna hijau. ”Namun meski begitu, tetap lebih tinggi kacang panjang hijau. Makan satu kilogram nasi ungu setara dengan makan lima lonjor BU 1. Kebutuhan antosianin tubuh per hari sekitar 200 ppm. Makan 100 gram saja sudah memenuhi kebutuhan antosianin tubuh,” tegasnya.

Ketua lab pemuliaan tanaman ini mengatakan, langkahnya untuk melepas atau merilis temuan teranyarnya ini diakui masih beberapa langkah lagi. Yakni dia tinggal mengujikan atau uji pelepasan atau uji kelayakan kacang panjang ungunya. Uji kelayakan ini dilakukan secara intern di lingkungan pertanian oleh mahasiwa S2 bimbingannya. Hasil uji kelayakan ini kemudian disidangkan di Kementerian Pertanian RI. Namun, dia menargetkan tahun ini akan didaftarkan ke Kementan RI untuk pelepasan agar bisa dijual bebas ke pasaran.     Manajer mutu lab sentra ilmu hayati ini bertekad, setelah mendapatkan izin untuk merilis temuannya ini, dia akan bekerja sama dengan perusahaan pembibitan kelas lokal. Sebab, tekadnya adalah meningkatkan derajat hasil pertanian lokal. Agar kembali berkibar, tidak hanya tersungkur digempur serangan produk pertanian impor. Menurutnya, hasil produk lokal jauh lebih berkualitas dibandingkan impor. ”Saya yakin produk lokal kita dapat bersaing dengan impor. Sebab, kualitas kita bagus. Untuk apa dikembangkan ke pihak asing kalau pihak lokal bisa mengelolanya,” tandas dia.(*/c2/abm)

This entry was posted in Activity. Bookmark the permalink.